Pages

Saturday, November 28, 2015

Pengaruh Masuknya Ajaran Hindu-Budha di Indonesia

Pengaruh Masuknya Ajaran Hindu-Budha di Indonesia
 3. Pengaruh Masuknya Ajaran Hindu-Budha di Indonesia
        Masuknya pengaruh unsur kebudayaan Hindu-Budha dari india telah mengubah dan menambah khasanah budaya Indonesia dalam beberapa aspek kehidupan.
a.       Agama
Ketika memasuki zaman sejarah, masyarakat indonesia menganut kepercayaan animisme. Masyarakat mulai menerima kepercayaan baru, yaitu agama Hindu-Budha sejak berinteraksi dengan orang-orang India. Budaya baru tersebut membawa perubahan pada kehidupan keagamaan, misalnya dalam hal tata cara krama, upacara-upacara pemujaan dan bentuk tempat peribadatan.
b.      Pemerintahan
Sistem pemerintahan kerajaan dikenalakan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Oleh karena itu lahir kerajaan-kerajaan seperti kutai, tarumanegara dan sriwijaya.
c.       Arsitektur
Salah satu tradsi megalitikum adalah punden berudak-undak. Tradisi tersebut berpadu dengan budaya India yang mengilhami perbuatan bangunan candi. Jika kita memperhatikan candi borobudur, akan terlihat bahwa bangunannya beberbentuk limas yang berundak-undak. Hal ini menjadi bukti adanya paduan budaya india-Indonesia.
d.      Bahasa
Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia meninggalkan beberapa prasasti besar berhuruf pallawa dan berbahasa Sanskerta. Dalam perkembangan selanjutnya bahkan hingga saat ini, bahasa Indonesia memperkaya diri dengan bahasa sanskerta itu. Kalimat atau kata-kata bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapan dari bahasa sanskerta yaitu Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purnakarya Nugraha, dsb.
e.      Sastra
Berkembangnya pengaruh India di Indonesia membawa kemajuan besar dalam bidang sastra. Karya sastra terkenal yang mereka bawa adalah kitab Ramayan dan Mahabarata. Adnya kitab-kitab itu memacu para pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya sendiri. Karya-karya sastra yang muncul di Indonesia:
1.       Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa
2.       Sotasoma, karya Mpu Tantular, dan
3.       Negarakertagama, karya Mpu Prapanca



Masuknya pengaruh Hindu-Buddha (Bag II)
Beberapa pendapat (teori) masuknya pengaruh Hindu-Buddha ke Indonesia :
Pertama, sering disebut dengan teori Ksatria. Dalam kaitan ini R.C. Majundar berpendapat, bahwa munculnya kerajaan atau pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia disebabkan oleh peranan kaum ksatria atau para prajurit India. Para prajurit diduga melarikan diri dari India dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya. Namun, teori Ksatria yang dikemukakan oleh R.C. Majundar ini kurang disertai dengan bukti-bukti yang mendukung. Selama ini belum ada ahli akelog yang dapat menemukan bukti-bukti yang menunjukkan adanya ekspansi
dari prajurit-prajurit India ke Kepulauan Indonesia. Kekuatan teori ini terletak pada semangat untuk petualangan para kaum ksatria.
Kedua, teori Waisya. Teori ini terkait dengan pendapat N.J. Krom yang mengatakan bahwa kelompok yang berperan dalam dalam penyebaran Hindu-Buddha di Asia Tenggara, termasuk Indonesia adalah kaum pedagang. Pada mulanya para pedagang
India berlayar untuk berdagang. Pada saat itu jalur perdagangan melalui lautan yang tergantung dengan adanya musim angin yang menyebabkan mereka tergantung pada kondisi alam. Bila musim angin tidak memungkinkan maka mereka akan menetap lebih lama untuk menunggu musim baik. Para pedagang India pun melakukan perkawinan dengan penduduk pribumi dan melalui perkawinan tersebut mereka mengembangkan kebudayaan India. Menurut G. Coedes, yang memotivasi para pedagang India untuk datang ke Asia Tenggara adalah keinginan untuk memperoleh barang tambang terutama emas dan hasil hutan.
Ketiga, teori Brahmana. Teori sesuai dengan pendapat J.C. van Leur bahwa Hinduninasi di Indonesia disebabkan oleh peranan kaum Brahmana. Pendapat van Leur didasarkan atas temuantemuan prasati yang menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf pallawa. Bahasa dan huruf tersebut hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Selain itu adanya kepentingan dari para penguasa untuk mengundang para Brahmana India. Mereka diundang ke Asia Tenggara untuk keperluan upacara keagamaan. Seperti pelaksanaan
upacara inisiasi yang dilakukan oleh para kepala suku agar mereka menjadi golongan ksatria. Pandangan ini sejalan dengan pendapat yang dikemukan oleh Paul Wheatly bahwa para penguasa lokal di Asia Tenggara sangat berkepentingan dengan kebudayaan India guna mengangkat status sosial mereka.
Keempat, teori yang dinamakan teori Arus Balik. Teori ini lebih menekankan pada peranan bangsa Indonesia sendiri dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Artinya, orang-orang di Kepulauan Indonesia terutama para tokoh-tokohnya yang pergi ke india. Di India mereka belajar hal ihwal agama dan kebudayaan Hindu-Buddha. Setelah kembali ke Kepulauan Indonesia mereka mengajarkan dan menyebarkan ajaran agama itu kepada masyarakatnya. Pandangan ini dapat dikaitkan dengan pandangan F.D.K. Bosch yang menyatakan bahwa proses Indianisasi di Kepulauan Indonesia dilakukan oleh kelompok tertentu, mereka itu terdiri dari kaum terpelajar yang mempunyai semangat untuk menyebarkan Buddha. Kedatangan mereka disambut baik oleh tokoh masyarakat. Selanjutnya karena tertarik dengan ajaran Hindu-Buddha mereka pergi ke India untuk memperdalam ajaran itu. Lebih lanjut Bosch mengemukakan bahwa proses Indianisasi adalah suatu pengaruh yang kuat terhadap kebudayaan lokal.



Pengaruh Agama dan Kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia

30/1/2015
A.       Respon masyarakat Indonesia tehadap masuknya agama Hindu-Budha di Indonesia

Secara umum, akulturasi diartikan sebagai proses perpaduan antara dua kebudayaan atau lebih, sehingga melahirkan bentuk kebudayaan baru. Akan tetapi, unsur-unsur penting dari masing-masing kebudayaan (baik kebudayaan lama maupun kebudayaan yang datang berikutnya) masih terlihat. Dengan demikian, proses akulturasi akan terjadi apabila masing-masing kebudayaan yang saling berpadu itu seimbang.

Terlepas dari berbagai macam teori yang muncul tentang penyebaran agama Hindu-Budha ke Indonesia, tidak semua pengaruh budaya India ditiru oleh masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia telah memiliki Local Genius yaitu kemampuan masyarakat Indonesia untuk menyaring dan mengolah budaya asing ynag masuk dan disesuaikan dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Masuknya pengaruh Kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia juga telah melahirkan akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha dengan kebudayaan Indonesia asli. Hal ini terjadi karena antara kebudayaan Hindu-Budha dengan kebudayaan Indonesia asli, sama-sama kuat.

B.    Pengaruh agama dan kebudayaan Hindu-Budha terhadap masyarakat Indonesia.
Datangnya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia membawa pengaruh terhadap semua aspek kehidupan bangsa Indonesia, yakni terjadinya perubahan perubahan menurut pola Hindu Buddha. Perubahan-perubahan tersebut mencakup bidang:

a. Agama
Ketika memasuki zaman sejarah, masyarakat indonesia menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Masyarakat mulai menerima kepercayaan baru, yaitu agama Hindu-Budha sejak berinteraksi dengan orang-orang India. Meskipun demikian, kepercayaan asli tidak hilang akibat tergeser oleh agama Hindhu dan Buddha. Budaya baru tersebut membawa perubahan pada kehidupan keagamaan, misalnya dalam hal tata cara krama, upacara-upacara pemujaan dan bentuk tempat peribadatan.

b. Pemerintahan
Sistem pemerintahan kerajaan dikenalkan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Oleh karena itu lahir kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha seperti Sriwijaya, Singasari, Mataram Kuno, Kutai, Tarumanegara, dan lain-lain. Sistem pemerintahan mengikuti pola dari India yaitu kerajaan, dimana kekuasaan dipegang oleh raja dan bersifat turun temurun. Pergantian penguasaan berdasarkan keturunan

Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha, bangsa Indonesia telah mengenal sistem pemerintahan. Sistem pemerintahan kepala suku berlangsung secara demokratis, yaitu salah seorang kepala suku merupakan pemimpin yang dipilih dari kelompok sukunya, karena memiliki kelebihan dari anggota kelornpok suku lainnya. Akan tetapi, setelah masuknya pengaruh Hindu-Buddha, tata pemerintahan disesuaikan dengan sistem kepala pemerintahan yang berkembang di India. Seorang kepala pemerintahaii bukan lagi seorang kepala suku, melainkan seorang raja, yang memerintah wilayah kerajaannya secara turun-temurun (Bukan lagi ditentukan oleh kemampuan, melainkan oleh keturunan).

c. Arsitektur dan Seni Budaya
Pengaruh Hindhu Buddha dalam bidang seni dan budaya dapat dilihat dari penyelenggaraan upacara keagamaan seperti : seni tari, seni sastra, sesaji, dan arsitektur pada bangunan candi dan seni relief. Salah satu tradsi megalitikum adalah punden berudak. Tradisi tersebut berpadu dengan budaya India yang mengilhami perbuatan bangunan candi. Jika kita memperhatikan candi borobudur, akan terlihat bahwa bangunannya beberbentuk limas yang berundak-undak. Hal ini menjadi bukti adanya paduan budaya India-Indonesia.

d. Bahasa dan Ilmu  Pengetahuan
Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia meninggalkan beberapa prasasti besar berhuruf pallawa dan berbahasa Sanskerta. Di kenalnya sistem pengetahuan yaitu seperti huruf pallawa dan bahasa Sansekerta menjadi pembuka jalan bagi perkembangan ilmu dan pengetahuan. Para Brahmana berperan sebagai rohaniawan sekaligus ilmuwan.

Dalam perkembangan selanjutnya bahkan hingga saat ini, bahasa Indonesia memperkaya diri dengan bahasa sanskerta itu. Kalimat atau kata-kata bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapan dari bahasa sanskerta yaitu Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purnakarya Nugraha, dsb.

e. Sastra
Berkembangnya pengaruh India di Indonesia membawa kemajuan besar dalam bidang sastra. Bahasa Sanskerta sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Indonesia. Prasasti-prasasti awal menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia, seperti yang ditemukan di Kalimantan Timur, Sriwijaya, Jawa Barat, Jawa Tengah. Prasasti itu ditulis dalam bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Karya sastra terkenal yang mereka bawa adalah kitab Ramayan dan Mahabarata. Adanya kitab-kitab itu memacu para pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya sendiri. Karya-karya sastra yang muncul di Indonesia:

a.      Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa yang disusun pada masa pemerintahan Airlangga.
b.      Sotasoma, karya Mpu Tantular
c.      Bharatayudha, karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh disusun pada aman kerajaan Kediri.
d.      Gatotkacasraya, karya Mpu Panuluh disusun pada aman kerajaan Kediri.
e.      Arjuna Wijaya dan Sutasoma, karya Mpu Tantular yang disusun pada aman kerajaan Majapahit.
f.       Negarakertagama, karya Mpu Prapanca disusun pada aman kerajaan Majapahit.
g.      Wretta Sancaya dan Lubdhaka, karya Mpu Tanakung yang disusun pada aman kerajaan Majapahit.

f. Bidang Sosial
Sebelum masuk pengaruh Hindhu dan Buddha, stratifikasi sosial didasarkan pada profesi. Namun setelah masuk pengaruh Hindhu dan Buddha, sistem stratifikasi mengikuti pola dari india yaitu pembagian masyarakat berdasarkan sistem kasta.

g.Kalender

Diadopsinya sistem kalender atau penanggalan India di Indonesia merupakan wujud dari akulturasi, yaitu dengan penggunaan tahun Saka. Di samping itu, juga ditemukan Candra Sangkala atau kronogram dalam usaha memperingati peristiwa dengan tahun atau kalender Saka. Candra Sangkala adalah angka huruf berupa susunan kalimat atau gambaran kata. Bila berupa gambar harus dapat diartikan ke dalam bentuk kalimat.



h.Seni Rupa/Seni Lukis

Unsur seni rupa atau seni lukis India telah masuk ke Indonesia. Hal ini terbukti dengan telah ditemukannya area Buddha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai. Juga patung Buddha berlanggam Amarawati ditemu-kan di Sikendeng (Sulawesi Selatan). Seni rupa India pada Candi Borobudur ada pada relief-relief ceritera Sang Buddha Gautama. Relief pada Candi Borobudur pada umumnya lebih menunjukkan suasana alam Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan rumah panggung dan hiasan burung merpati. Di samping itu, juga terdapat hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan tersebut merupakan lukisan asli Indonesia, karena lukisan seperti itu tidak pernah ditemukan pada candi-candi yang ada di India. Juga relief Candi Prambanan yang memuat ceritera Ramayana.



Proses Masuknya Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia


Proses Masuknya Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia|Bagaimana proses atau asal-usul cara masuknya hindu-buddha dindonesia yang telah menjadi sejarah-sejarah indonesia, sehingga dapat berkembang dan menyebar mentode-metode apa yang digunakannya ?. atau cara-cara apa yang dilakukan dalam proses penyebaran pengaruh hindu-buddha sehingga masyarakat indonesia dapat memeluk agama hindu-buddha ??... tidak mungkin masyarakat indonesia atau kerajan-kerajaan beraliran hindu-budda muncul atau lahir begitu langsung memeluk agama hindu-buddha pasti ada yang menyiarkan atau menyebarkan pengaruhnya sehingga masyarakat indonesia dapat menganut agama hindu-buddha dan itu memerlukan proses-proses atau langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penyiaran hindu-buddha diindonesia, apa yang melatar belakangi yang membuat agama hindu-buddha di indonesia??. untuk mengetahui itu semua mari kita lihat penjelasan itu semua yang dirangkum dalam sebuah tema yakni Proses Masuknya Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia yang ada dibawah ini. 

Proses Masuknya Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia
Perkembangan pengaruh Hindu-Buddha dari india, uga menyebar ke kepulauan Indonesia. Bagaimana proses masuknya pengaruh agama dan kebudayaan Hindu-Buddha itu ke Indonesia?. Proses berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha pada awalnya terjadi melalui hubungan dagang dan kontak kebudayaan.

a. Hubungan Dagang 
Perlu kita ingat kembali bahwa sejak zaman kuno sudah berkembang jalur perdagangan yang menghubungkan antara Cina dan Eropa. Jalur perdagangan itu ada yang melalui laut dan ada pula yang melalui jalur darat. Dari dua jalur perdagangan itu, India memiliki letak yang sangat penting. Hal itu disebabkan wilayah India berdekatan dengan kedua jalur tersebut. Keuntungannya adalah orang-orang India dapat pergi ke Eropa ataupun ke Cina sehingga banyak bergaul dengan pihak lain. Kalau kita mengamati letak kepulauan indonesia, ternyata juga sangat strategis. Secara astronomis, letak indonesia di antara 95 °BT-141°BT dan di antara 6°LU-11°LS. Oleh karena itu, Indonesia beriklim tropis dan memiliki musim penghujan dan kemarau secara bergantian. Oleh karena banyak turun hujan, tanah Indonesia sangat subur. Secara geografis Indonesia terletak di antara dua samudra, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Indonesia juga terletak di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Oleh karena itu, di Indonesia berembus angin muson yang setiap setengah tahun berganti arah berlawanan. 

Letak yang demikian itu telah menempatkan Indonesia pada jalur lalu lintas perdagangan dan pelayaran antara bangsa yang sangat strategis. Sejak awal tahun Masehi, Indonesia menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dagang dari India menuju ke Cina, begitu pula sebaliknya. Dalam perkembangannya, jalur laut itu menjadi makin ramai karena jalur darat makin banyak gangguan. Dengan demikian berkembangnya jalur perdagangan laut, makin meningkatkan peran Indonesia sebagai penghubung jalur perdagangan dunia. Banyak kapal dagang dari India dan Cina, bahkan juga pedagang-pedagang dari kawasan lain melakukan bongkar muat barang dan mengadakan perdagangan dengan para pedagang indonesia.Hubungan dagang Indonesia dengan India dan Cina makin bertambah ramai. Banyak para pedagang India dan Cina berkunjung ke Indonesia karena memiliki banyak karang dagangan yang sangat berharga. Hubungan dagang dengan India makin meluas terutama setelah mereka mengambil jalan pintas. Mereka menyusuri pantai timur Sumatera, terus ke Selat Malaka berbelok menyusuri pantai utara Jawa, Bali, pantai timur Kalimantan (Muara Kaman) terus ke Cina. Ternyata jalur ini lebih tenang dan aman dibanding melalui Laut Cina Selatan. Selain itu, pulau-pulau yang dilalui banyak menghasilkan barang dagangan, seperti emas, perak, gading, beras, rempah-rempah, dan kayu cendana. 

b. Hubungan Budaya 
Melalui kegiatan dagang itu, terjadilah pergaulan dan percampuran antara orang-orang Indonesia dan bangsa-bangsa lain terutama India dan Cina. Dari pergaulan itu tidak jarang saling memberikan keternagan dan memperkenalkan agama dan kebudayaan masing-masing, Terjadilah kontak kebudayaan antara kebudayaan Indonesia dan kebudayaan dari luar, terutama dari India. Bersamaan dengan kegiatan dagang itu datang pula para pendeta untuk melihat perkembangan dan sekaligus menyebarkan agama Hindu-Buddha ke Indonesia. Orang-orang Indonesia, terutama pemuka masyarakat mulai tertarik pada ajaran agama Hindu atau Buddha. Mereka secara khusus mengundang para brahmana atau pendeta untuk memimpin upacara pemujaan atau upacara korban. Sudah tentu para brahmana atau pendeta itu dalam memimpin upacara sesuai dengan agama Hindu dan Buddha. Para pemuka masyarakat tertarik dengan upacara yang dilakukan para brahmana atau para pendeta. Oleh karena itu, banyak di antara para pemuka masyarakat memeluk agama Hindu dan Buddha. 

Di antara para pemuka masyarakat kemudian ada yang pergi ke India untuk memperdalam agama Hindu dan Buddha. Setelah pulang ke Indonesia mereka ikut menyebarkan agama dan  kebudayaan Hindu-Buddha. Rakyatpun banyak yang tertarik dan memluk agama yang dipeluk para pemuka masyarakat tersebut. Selain itu, terjadinya perkawinan orang-orang india dengan orang Indonesia telah ikut mempercepat proses masuk dan penyebaran Hindu-Buddha ke Indonesia. 

Proses masuknya pengaruh Hindu-Buddha itu menunjukkan bahwa semula orang-orang Indonesia bersifat pasif. Akan tetapi, orang-orang Indonesia kemudian bersifat aktif. Mereka yang sudah memiliki pengetahuan agam pergi ke India untuk berziarah dan menambah pengetahuan agamanya. Setelah pulang ke Indonesia, mereka aktif menyebarkan agama Hindu atau Buddha itu kepada masyarakat. Dengan demikian, makin banyak anggota masyarakat yang memeluk agama Hindu atau Buddha. Akan tetapi, nampaknya agama Hindu lebih dahulu berkembang dibandingkan agama Buddha. 

Proses Masuknya Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia
(Proses Masuknya Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia)
Teori Masuknya Agama dan Kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia 
Masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha ada beberapa teori. Teori itu adalah teori kesatria, Waisya, Brahmana, dan teori Arus Balik. 
1. Teori Kesatria
Teori ini menyatakan, masuknya agama Hindu ke Indonesia dibawa kasta kesatria. Kasta kesatria melarikan diri ke Indonesia karena terjadi kekacauan politik dalam negeri 
2. Teori Waisya yang dikemukakan oleh NJ. Krom 
Kasta waisya terdiri atas golongan pedagang. Mereka banyak melakukan perdagangan ke luar negeri termasuk ke Indonesia. Para pedagang tidak hanya berdagang, tetapi juga menyebarkan pengaruh agama dan budaya Hindu. 
3. Teori Brahmana yang Dikemukakan oleh Van Leur 
Teori ini menyatakan, penyebaran agama Hindu dilakukan oleh kaum brahmana. Mereka datang ke Indonesia memenuhi undangan pemuka masyarakat yang merassa tertarik dengan agama Hindu. Dari para brahmana inilah, agama Hindu masuk dan berkembang di Indonesia. 
4. Teori Arus Balik yang dikemukakan oleh F.D.K.Bosch
Menurut teori ini, penyebaran budaya India ke Indonesia dilakukan oleh para cendekiawan atau golongan terdidik bangsa. Teori ini mengemukakan bahwa bangsa Indonesia berperan aktif dalam penyebaran budaya India. Setelah memperoleh pengaruh budaya India, bangsa Indonesia belajar ke India dan menyebarkannya kembali ke Indonesia. 



PERKEMBANGAN TEKNOLOGI

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI

A.     Antara Batu dan Tulang
B.      Antara Pantai dan Gua
C.      Sebuah Revolusi
1.      Antara Batu dan Tulang
Peralatan ini berkembang pada zaman paleolitikum atau zaman batu tua. Zaman ini merupakan zaman yang sangat penting karena terkait dengan munculnya kehidupan baru.Kebudayaan zaman paleolitikum ini secara umum ini terbagi menjadi kebudayaan kebudayaan pacitan dan kebudayaan ngandong.
-Kebudayaan Pacitan
Kebudayaan pacitan berkembang di daerah pacitan, jawa timur. Seorang ahli, von  koeningswald dalam penelitiannya pada tahun 1935 telah menemukan beberapa hasil teknologi. Alat batu itu masih kasar, dan bentuk ujungnya agak runcing, kapak ini digunakan untuk menusuk binatang atau menggali tanah saat mencari umbi-umbian.
            -kebudayaan Ngandong
kebudayaan ini berkembang di daerah ngandong dan juga sidorejo, dekat ngawi.Di daerah ini banyak ditentukan alat-alat dari tulang.Alat- alat dari batu, bentuknya indah seperti kalsedon dan alat ini sering di sebut dengan flakke.
A. Paleolitikum
Paleolitikum atau zaman batu tua disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis.
A. CIRI-CIRI ZAMAN PALEOLITHIKUM
1. Jenis Manusia
Berdasarkan penemuan fosil manusia purba, jenis manusia purba hidup pada zaman Paleolitikum adalah Pithecanthropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus paleojavanicus, dan Homo Soliensis.Fosil ini ditemukan di aliran sungai Bengawan Solo.

2. Kebudayaan
Berdasarkan daerah penemuannya maka alat-alat kebudayaan Paleolithikum tersebut dapat dikelompokan menjadi kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong.

a. Kebudayaan Pacitan
Pada tahun 1935, von Koenigswald menemukan alat batu dan kapak genggam di daerah Pacitan. Kapak genggam itu berbentuk kapak tetapi tidak bertangkai.Kapak ini masih dikerjakan dengan sangat kasar dan belum dihaluskan.Para ahli menyebutkan bahwa kapak itu adalah kapak penetak. Selain di Pacitan alat-alat banyak ditemukan di Progo dan Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Lahat (Sumatera Utara)

b. Kebudayaan Ngandong
Para ahli berhasil menemukan alat-alat dari tulang, flakes, alat penusuk dari tanduk rusa dan ujung tombak bergigi di daerah Ngandong dan Sidoarjo. Selain itu di dekat Sangiran ditemukan alat sangat kecil dari betuan yang amat indah.Alat ini dinamakan Serbih Pilah, dan banyak ditemukan di Cabbenge (Sulawesi Selatan) yang terbuat dari batu-batu indah seperti kalsedon. Kebudayaan Ngandong juga didukung oleh penemuan lukisan pada dinding goa seperti lukisan tapak tangan berwarna merah dan babi hutan ditemukan di Goa Leang Pattae (Sulawesi Selatan)
B. ALAT-ALAT ZAMAN PALEOLITHIKUM
Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang masih kasar dan belum dihaluskan. Contoh alat-alat tersebut adalah:

1. Kapak Genggam
kapak genggam
Kapak genggam banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat ini biasanya disebut "chopper" (alat penetak/pemotong)
Alat ini dinamakan kapak genggam karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengan cara menggenggam. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanyasebagai tempat menggenggam. Kapak genggam berfungsi menggali umbi, memotong, dan menguliti binatang.

2. Kapak Perimbas
kapak perimbas
Kapak perimbas berfungsi untuk merimbas kayu, memahat tulang dan sebagai senjata.Manusia kebudayan Pacitan adalah jenis Pithecanthropus.Alat ini juga ditemukan di Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), lahat, (Sumatra selatan), dan Goa Choukoutieen (Beijing).Alat ini paling banyak ditemukan di daerah Pacitan, Jawa Tengah sehingga oleh Ralp Von Koenigswald disebut kebudayan Pacitan.



3. Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa
alat tulang rusa
Salah satu alat peninggalan zaman paleolithikum yaitu alat dari tulang binatang.Alat-alat dari tulang ini termasuk hasil kebudayaan Ngandong.Kebanyakan alat dari tulang ini berupa alat penusuk (belati) dan ujung tombak bergerigi.Fungsi dari alat ini adalah untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah.Selain itu alat ini juga biasa digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan.








4. Flakes
flakes
Flakes yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon, yang dapat digunakan untuk mengupas makanan. Flakes termasuk hasil kebudayaan Ngandong sama seperti alat-alat dari tulang binatang. Kegunaan alat-alat ini pada umumnya untuk berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan buah-buahan.
B. Mesolitikum
            Pengertian mesolitikum atau arti dari mesolitikum serta istilah mesolitikum atau Sinonim dari kata mesolitikum adalah:
me·so·li·ti·kum /mésolitikum/ n Geo masa peralihan dl zaman batu (prasejarah) antara Paleolitikum (zaman batu tua) dan Neolitikum (zaman batu baru)
A. HASIL KEBUDAYAAN MESOLITHIKUM
1. Kebudayaan Pebble (Pebble Culture)
a.      Kjokkenmoddinger (Sampah Dapur)
kjokkenmoddinger
Kjokkenmoddinger adalah istilah yang berasal dari bahasa Denmark yaitu kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah jadi Kjokkenmoddinger arti sebenarnya adalah sampah dapur.Dalam kenyataan Kjokkenmoddinger adalah timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput yang mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah membatu atau menjadi fosil.Kjokkenmoddinger ditemukan disepanjang pantai timur Sumatera yakni antara Langsa dan Medan.Dari bekas-bekas penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap. Tahun 1925 Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya banyak menemukan kapak genggam yang ternyata berbeda dengan chopper (kapak genggam Palaeolithikum).
b.      Pebble (kapak genggam Sumatera = Sumateralith)
pebble kapak genggam sumatera
Tahun 1925, Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya menemukan kapak genggam.Kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan dengan pebble/kapak genggam Sumatra (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu dipulau Sumatra.Bahan-bahan untuk membuat kapak tersebut berasal batu kali yang dipecah-pecah.
c.       Hachecourt (kapak pendek)
Selain pebble yang diketemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan sejenis kapak tetapi bentuknya pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan hachecourt/kapak pendek.
d.      Pipisan
batu pipisan
Selain kapak-kapak yang ditemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan pipisan (batu-batu penggiling beserta landasannya).Batu pipisan selain dipergunakan untuk menggiling makanan juga dipergunakan untuk menghaluskan cat merah.Bahan cat merah berasal dari tanah merah.Cat merah diperkirakan digunakan untuk keperluan religius dan untuk ilmu sihir.




2. Kebudayaan Tulang dari Sampung (Sampung Bone Culture)
sampung bone culture
Berdasarkan alat-alat kehidupan yang ditemukan di goa lawa di Sampung (daerah Ponorogo - Madiun Jawa Timur) tahun 1928 - 1931, ditemukan alat-alat dari batu seperti ujung panah dan flakes, kapak yang sudah diasah, alat dari tulang, tanduk rusa, dan juga alat-alat dari perunggu dan besi. Oleh para arkeolog bagian terbesar dari alat-alat yang ditemukan itu adalah tulang, sehingga disebut sebagai Sampung Bone Culture.






3. Kebudayaan Flakes (Flakes Culture)
·                     Abris Sous Roche (Gua tempat tinggal)
abris sous roche
Abris Sous Roche adalah goa-goa yang yang dijadikan tempat tinggal manusia purba pada zaman Mesolithikum dan berfungsi sebagai tempat perlindungan dari cuaca dan binatang buas.Penyelidikan pertama pada Abris Sous Roche dilakukan oleh Dr. Van Stein Callenfels tahun 1928-1931 di goa Lawa dekat Sampung Ponorogo Jawa Timur. Alat-alat yang ditemukan pada goa tersebut antara lain alat-alat dari batu seperti ujung panah, flakes, batu pipisan, kapak yang sudah diasah yang berasal dari zaman Mesolithikum, serta alat-alat dari tulang dan tanduk rusa.Di antara alat-alat kehidupan yang ditemukan ternyata yang paling banyak adalah alat dari tulang sehingga oleh para arkeolog disebut sebagai Sampung Bone Culture / kebudayaan tulang dari Sampung. Karena goa di Sampung tidak ditemukan Pebble ataupun kapak pendek yang merupakan inti dari kebudayaan Mesolithikum. Selain di Sampung, Abris Sous Roche juga ditemukan di daerah Besuki dan Bojonegoro Jawa Timur. Penelitian terhadap goa di Besuki dan Bojonegoro ini dilakukan oleh Van Heekeren. Di Sulawesi Selatan juga banyak ditemukan Abris Sous Roche terutama di daerah Lomoncong yaitu goa Leang Patae yang di dalamnya ditemukan flakes, ujung mata panah yang sisi-sisinya bergerigi dan pebble. Di goa tersebut didiami oleh suku Toala, sehingga oleh tokoh peneliti Fritz Sarasin dan Paul Sarasin, suku Toala yang sampai sekarang masih ada dianggap sebagai keturunan langsung penduduk Sulawesi Selatan zaman prasejarah.Untuk itu kebudayaan Abris Sous Roche di Lomoncong disebut kebudayaan Toala. Kebudayaan Toala tersebut merupakan kebudayaan Mesolithikum yang berlangsung sekitar tahun 3000 sampai 1000 SM. Selain di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, Abris Sous Roche juga ditemukan di daerah Timor dan Rote. Penelitian terhadap goa tersebut dilakukan oleh Alfred Buhler yang di dalamnya ditemukan flakes dan ujung mata panah yang terbuat dari batu indah.


B. KEBUDAYAAN BACSON-HOABINH
bacson hoabinh
Kebudayaan ini ditemukan dalam gua-gua dan dalam bukit-bukit kerang di Indo-China, Siam, Malaka, dan Sumatera Timur.Alat-alat kebudayaannya terbuat dari batu kali, seperti bahewa batu giling.Pada kebudayaan ini perhatian terhadap orang meninggal dikubur di gua dan juga di bukit-bukit kerang.Beberapa mayatnya diposisikan dengan berjongkok dan diberi cat warna merah.Pemberian cat warna merah bertujuan agar dapat mengembalikan hayat kepada mereka yang masih hidup. Di Indonesia, kebudayaan ini ditemukan di bukit-bukit kerang. Hal seperti ini banyak ditemukan dari Medan sampai ke pedalaman Aceh.Bukit-bukit itu telah bergeser sejauh 5 km dari garis pantai menunjukkan bahwa dulu pernah terjadi pengangkatan lapisan-lapisan bumi.Alur masuknya kebudayaan ini sampai ke Sumatera melewati Malaka. Di Indonesia ada dua kebudayaan Bacson-Hoabinh, yakni:
1.             Kebudayaan pebble dan alat-alat dari tulang yang datang ke Indonesia melalui jalur barat.
2.             Kebudayaan flakes yang datang ke Indonesia melalui jalur timur.

Dengan adanya keberadaan manusia jenis Papua Melanosoide di Indonesia sebagai pendukung kebudayaan Mesolithikum, maka para arkeolog melakukan penelitian terhadap penyebaran pebble dan kapak pendek sampai ke daerah teluk Tonkin daerah asal bangsa Papua Melanosoide. Dari hasil penyelidikan tersebut, maka ditemukan pusat pebble dan kapak pendek berasal dari pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh, di Asia Tenggara. Tetapi di daerah tersebut tidak ditemukan flakes, sedangkan di dalam Abris Sous Roche banyak ditemukan flakes bahkan di pulau Luzon (Filipina) juga ditemukan flakes. Ada kemungkinan kebudayaan flakes berasal dari daratan Asia, masuk ke Indonesia melalui Jepang, Formosa dan Filipina.


C. KEBUDAYAAN TOALA
lukisan pra sejarah
Kebudayaan Toala dan yang serumpun dengan itu disebut juga kebudayaan flake dan blade. Alat-alatnya terbuat dari batu-batu yang menyerupai batu api dari eropa, seperti chalcedon, jaspis, obsidian dan kapur. Perlakuan terhadap orang yang meninggal dikuburkan didalam gua dan bila tulang belulangnya telah mengering akan diberikan kepada keluarganya sebagai kenang-kenangan. Biasanya kaum perempuan akan menjadikan tulang belulang tersebut sebagai kalung. Selain itu, didalam gua terdapat lukisan mengenai perburuan babi dan juga rentangan lima jari yang dilumuri cat merah yang disebut dengan “silhoutte”. Arti warna merah tanda berkabung.Kebudayaan ini ditemukan di Jawa (Bandung, Besuki, dan Tuban), Sumatera (danau Kerinci dan Jambi), Nusa Tenggara di pulau Flores dan Timor.
C.    Neolitikum
d.       Zaman Neolitikum biasa juga dikenal dengan sebutan Zaman Batu Muda. Zaman batu muda diperkirakan berlangsung kira-kira tahun 2000 SM. Perkembangan kebudayaan pada zaman ini sudah sangat maju. Dalam zaman ini, alat yang dihasilkan sudah bagus. Meskipun masih terbuat dari batu, tetapi pada semua bagiannya telah dihaluskan dan persebarannya telah merata di seluruh Indonesia. Menurut Dr. R. Soekmono, Kebudayaan ini lah yang menjadi dasar kebudayaan Indonesia sekarang. Dalam zaman ini, terjadi perubahan pola hidup masyarakat, dari tradisi food gatering ke food producing. Manusia yang hidup pada zaman ini adalah bangsa Proto Melayu. Seperti suku Nias, suku Toraja, suku Sasak dan Suku Dayak.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmy27GZfIvHFMVA9Mm7Rl5ThHlkqhB49B1bzQcNu0yhqxYhOVOEk1Ky498cFIMKtSrMUCJ2LrjFLaVlj-X8LmktU7WU9ZkiH5-oDay7Pq5uKgN1BNMj7p3G2HWq4QhWEOGUQ2faBdM-KYP/s320/peralatan+zaman+neolitikum.jpg
http://www.ezakwantu.com/Trade%20Beads%20-%20Neolithic%20Collection.jpg
2. Antara Pantai dan Gua
- Mesolitikum
Mesolitikum atau "Zaman Batu Pertengahan" adalah suatu periode dalam perkembangan teknologi manusia, antara Paleolitik atau Zaman Batu Tua dan Neolitik atau Zaman Batu Muda.
Istilah ini diperkenalkan oleh John Lubbock dalam makalahnya "Jaman Prasejarah" (bahasa Inggris: Pre-historic Times) yang diterbitkan pada tahun 1865. Namun istilah ini tidak terlalu sering digunakan sampai V. Gordon Childe mempopulerkannya dalam bukunya The Dawn of Europe (1947).
Zaman Mesolitikum di Indonesia
Pada zaman mesolitikum di Indonesia, manusia hidup tidak jauh berbeda dengan zaman paleolitikum, yaitu dengan berburu dan menangkap ikan, namun manusia pada masa itu juga mulai mempunyai tempat tinggal agak tetap dan bercocok tanam secara sederhana.Tempat tinggal yang mereka pilih umumnya berlokasi di tepi pantai (kjokkenmoddinger) dan goa-goa (abris sous roche) sehingga di lokasi-lokasi tersebut banyak ditemukan berkas-berkas kebudayaan manusia pada zaman itu.

- Paleolitikum
Paleolitikum adalah zaman prasejarah yang bermula kira-kira 50.000 hingga 100.000 tahun yang lalu.Periode zaman ini adalah antara tahun 50.000 SM - 10.000 SM.
Pada zaman ini, manusia Peking dan manusia Jawa telah ada. Di Afrika, Eropa dan Asia, manusia Neanderthal telah hidup pada awal tahun 50.000 SM, manakala pada tahun 20 000 SM, manusia Cro-magnon sudah menguasai kebudayaan di Afrika Utara dan Eropa.
Beberapa perkembangan kebudayaan ditemukan di sekitar Pacitan (ditemukan oleh Von Koenigswald) dan Ngandong.
Pada zaman ini, manusia hidup secara nomaden atau berpindah-randah dalam kumpulan kecil untuk mencari makanan.Mereka memburu binatang, menangkap ikan dan mengambil hasil hutan sebagai makanan.Mereka tidak bercocok tanam.Mereka menggunakan batu, kayu dan tulang binatang untuk membuat peralatan memburu.Alat-alat ini juga digunakan untuk mempertahankan diri daripada musuh.Mereka membuat pakaian dari kulit binatang. Selain itu, mereka juga pandai menggunakan api untuk memasak, memanaskan badan dan menakutkan binatang.
Peninggalan yang ditemukan antara lain berupa peralatan batu seperti
 flakes (alat penyerpih berfungsi misalnya untuk mengupas, menguliti), chopper (kapak genggam/alat penetak), selain itu terdapat pula peralatan dari tulang.
Kapak genggam banyak ditemukan di daerah Pacitan, biasa disebut Chopper (alat penetak/pemotong). Dinamakan kapak genggam karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara menggunakannya dengan cara menggenggam. Pembuatannya dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanya sebagai tempat menggenggam.
Spesies manusia purba yang telah ada: 1. Meganthropus Paleojavanicus 2. Pithecanthropus Erectus (Pithecanthropus Mojokertensis, Pithecanthropus Robustus) 3. Homo Sapiens (Homo Soloensis, Homo Wajakensis)
Proses pembuatan kapak batu: 1. Memilih batu yang cocok dan mudah dibentuk 2. Batu tersebut dipukulkan dengan menggunakan batu yang lebih keras 3. Pembentukan dengan cara dihaluskan menggunakan kapak tulang, tangan juga dilindungi dengan kulit.

a.   Kebudayaan Kjokkenmoddinger
Kjokkenmoddinger adalah sampah dapur dari zaman mesolitikum yang ditemukan di sepanjang pantai timur Pulau Sumatera. Hal ini diteliti oleh Dr. P. V. van Stein Callenfels pada tahun 1925 dan menurut penelitian yang dilakukannya, kehidupan manusia pada saat itu bergantung dari hasil menangkap siput dan kerang karena ditemukan sampah kedua hewan tersebut setinggi 7 meter. Sampah dengan ketinggian tersebut kemungkinan telah mengalami proses pembentukan cukup lama, yaitu mencapai ratusan bahkan ribuan tahun. Di antara tumpukan sampah tersebut juga ditemukan batu penggiling beserta landasannya (pipisan) yang digunakan untuk menghaluskan cat merah.Cat tersebut diperkirakan digunakan dalam acara keagamaan atau ilmu sihir. Di tempat itu juga ditemukan banyak benda-benda kebudayaan seperti kapak genggam yang disebutpebble atau kapak genggam Sumatera (Sumeteralith) sesuai dengan tempat penemuannya. Kapak tersebut terbuat dari batu kali yang dibelah dua dan teksturnya masih kasar. Kapak lain yang ditemukan pada zaman ini adalah bache courte (kapak pendek) yang berbentuk setengah lingkaran seperti kapak genggam atau chopper. Berdasaran pecahan tengkorak dan gigi yang ditemukan padaKjokkenmoddinger, diperkirakan bahwa manusia yang hidup pada zaman mesolitikum adalah bangsa Papua Melanesoide.(nenek moyang suku Irian dan Melanesoid).
b.  Kebudayaan Abris Sous Roche
Abris sous roche adalah goa menyerupai ceruk batu karang yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal. Penelitian mengenai kebudayaan Abris sous roche ini juga dilakukan oleh van Stein Callenfels pada tahun 1928-1931 di Goa Lawu dekat Sampung, Ponorogo (Madiun). Alat-alat yang ditemukan lebih banyak terbuat dari tulang sehingga disebut sebagai Sampung Bone Culture.Di daerah Besuki (Jawa Timur), van Heekeren juga menemukan kapak Sumatera dan kapak pendek.Abris sous roche juga ditemukan pada daerah Timor dan Rote oleh Alfred Buhler yang menemukan flakes culture dari kalsedon bertangkai dan hal ini diduga merupakan peninggalan bangsa Papua Melanesoide. Hasil kebudayaanAbris sous roche juga ditemukan di Lamancong (Sulawesi Selatan) yang biasa disebut kebudayaan Toala. Kebudayaan Toala ditemukan pada suatu goa yang disebut Goa Leang PattaE dan inti dari kebudayaan ini adalah flakes dan pebble. Selain Toala, para ahli juga menemukan kebudayaan Bacson-Hoabinh dan Bandung di Indonesia. Bacson-Hoabinh diperkirakan merupakan pusat budaya prasejarah Indonesia dan terdiri dari dua macam kebudayaan, yaitu kebudayaapebble (alat-alat tulang yang datang dari jalan barat) dan kebudayaan flakes(datang melalui jalan timur). Sementara itu, penelitian kebudayaan Bandung dilakukan oleh van Koenigswald di daerah Padalarang, Bandung Utara, Cicalengka, BanjarabSoreang, dan sebelah barat Cililin.Kebudayaan yang ditemukan berupaflakes yang disebut microlith (batu kecil), pecahan tembikar, dan benda-benda perunggu.
3.SEBUAH REVOLUSI
Revolusi
 adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupanmasyarakat.Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan.Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama.Misalnya revolusi industri di Inggris yang memakan waktu puluhan tahun, namun dianggap 'cepat' karena mampu mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat —seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antara buruh dan majikan— yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru. Revolusi senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika, romantika, menjebol dan membangun.
Dialektika revolusi mengatakan bahwa revolusi merupakan suatu usaha menuju perubahan menuju kemaslahatan rakyat yang ditunjang oleh beragam faktor, tak hanya figur pemimpin, namun juga segenap elemen perjuangan beserta sarananya. Logika revolusi merupakan bagaimana revolusi dapat dilaksanakan berdasarkan suatu perhitungan mapan, bahwa revolusi tidak bisa dipercepat atau diperlambat, ia akan datang pada waktunya. Kader-kader revolusi harus dibangun sedemikian rupa dengan kesadaran kelas dan kondisi nyata di sekelilingnya. Romantika revolusi merupakan nilai-nilai dari revolusi, beserta kenangan dan kebesarannya, di mana ia dibangun. Romantika ini menyangkut pemahaman historis dan bagaimana ia disandingkan dengan pencapaian terbesar revolusi, yaitu kemaslahatan rakyat. Telah banyak tugu peringatan dan museum yang melukiskan keperkasaan dan kemasyuran ravolusi di banyak negara yang telah menjalankan revolusi seperti yang terdapat di Vietnam, Rusia, China, Indonesia, dan banyak negara lainnya.Menjebol dan membangun merupakan bagian integral yang menjadi bukti fisik revolusi. Tatanan lama yang busuk dan menyesatkan serta menyengsarakan rakyat, diubah menjadi tatanan yang besar peranannya untuk rakyat, seperti di Bolivia, setelah Hugo Chavez menjadi presiden ia segera merombak tatanan agraria, di mana tanah untuk rakyat sungguh diutamakan yang menyingkirkan dominasi para tuan tanah di banyak daerah di negeri itu.
Dalam pengertian umum, revolusi mencakup jenis perubahan apapun yang memenuhi syarat-syarat tersebut.Misalnya
 Revolusi Industri yang mengubah wajah dunia menjadi modern.Dalam definisi yang lebih sempit, revolusi umumnya dipahami sebagai perubahan politik.
Sejarah modern mencatat dan mengambil rujukan revolusi mula-mula pada
 Revolusi Perancis, kemudian Revolusi Amerika.Namun, Revolusi Amerika lebih merupakan sebuah pemberontakan untuk mendapatkan kemerdekaan nasional, ketimbang sebuah revolusi masyarakat yang bersifat domestik seperti pada Revolusi Perancis.Begitu juga dengan revolusi pada kasus perang kemerdekaan Vietnam dan Indonesia. Maka konsep revolusi kemudian sering dipilah menjadi dua: revolusi sosialdan revolusi nasional.
Pada abad 20, terjadi sebuah perubahan bersifat revolusi sosial yang kemudian dikenal dengan
 Revolusi Rusia.Banyak pihak yang membedakan karakter Revolusi Rusia ini dengan Revolusi Perancis, karena karakter kerakyatannya.Sementara Revolusi Perancis kerap disebut sebagai revolusi borjuis, sedangkan Revolusi Rusia disebut Revolusi Bolshevik, Proletar, atau Komunis. Model Revolusi Bolshevik kemudian ditiru dalam Perang Saudara Tiongkok pada 1949
Karakter kekerasan pada ciri revolusi dipahami sebagai sebagai akibat dari situasi ketika perubahan tata nilai dan norma yang mendadak telah menimbulkan kekosongan nilai dan norma yang dianut masyarakat.
ada dikatakan bahwa neolithikum itu adalah suatu revolusi yang sangat besar dalam peradaban manusia. Perubahan besar ini ditandai dengan berubahnya peradaban penghidupan food-gathering menjadi foodproducing.Pada saat orang sudah mengenal bercocok tanam dan berternak.Pertanian yang mereka selenggarakan mula-mula bersifat primitif dan hanya dilakukan di tanah-tanah kering saja.Pohon-pohon dari beberapa bagian hutan di kelupak kulitnya dan kemudian dibakar.Tanah-tanah yang baru dibuka untuk pertanian semacam itu untuk beberapa kali berturut-turut ditanami dan sesudah itu ditinggalkan.

Orang-orang Indonesia zaman neolithikum membentuk masyarakat-masyarakat dengan pondok-pondok mereka berbentuk persegi siku-siku dan didirikan atas tiang-tiang kayu, dinding-dindingnya diberi hiasan dekoratif yang indah-indah, Walaupun alat-alat mereka masih dibuat daripada batu, tetapi alat-alat itu dibuat dengan halus, bahkan juga sudah dipoles pada kedua belah muka

hasil kebudayan yang terkenal dizaman neolitikumini secara garis besar ,ada dua tahap perkembangan yaitu :
A.KEBUDAYAN KAPAK PERSEGI
kapak persegi
Asal-usul penyebaran kapak persegi melalui suatu migrasi bangsa Asia ke Indonesia.Nama kapak persegi diberikan oleh Van Heine Heldern atas dasar penampang lintangnya yang berbentuk persegi panjang atau trapesium.Penampang kapak persegi tersedia dalam berbagai ukuran, ada yang besar dan kecil.Yang ukuran besar lazim disebut dengan beliung dan fungsinya sebagai cangkul/pacul.Sedangkan yang ukuran kecil disebut dengan Tarah/Tatah dan fungsinya sebagai alat pahat/alat untuk mengerjakan kayu sebagaimana lazimnya pahat.

Bahan untuk membuat kapak tersebut selain dari batu biasa, juga dibuat dari batu api/chalcedon.Kemungkinan besar kapak yang terbuat dari calsedon hanya dipergunakan sebagai alat upacara keagamaan, azimat atau tanda kebesaran. Kapak jenis ini ditemukan di daerahi Sumatera, Jawa, bali, Nusatenggara, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.
berupa persegi panjang atau juga berbentuk trapezium. Yang dimaksud dengan kapak persegi itu bukan hanya kapak persegi saja, tetapi banyak lagi alat-alat lainnya dari berbagai ukuran dan berbagai keperluan; yang besar yaitu kapak atau pacul, dan yang kecil yaitu tarah, yang tentunya digunakan untuk mengerjakan kayu. Alat-alat itu semuanya sama bentuknya, agak melengkung sedikit, dan diberi tangkai yang diikat kepada tempat lengkung itu.

Kapak persegi di Indonesia ini terutama ditemukan di wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusan Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi dan di Kalimantan. Bahan yang digunakan untuk membuat kapak persegi kebanyakan menggunakan batu api dan batu Kalcedon. Pembuatan kapak-kapak ini diperkirakan terpusat di beberapa tempat, dari dari sini menyebar ke tempat-tempat lain. Hal ini berdasarkan pada tempat penemuan kapak persegi di beberapa tempat yang tidak memiliki bahan batu api, yang digunakan sebagai bahan pembuatannya, sedangkan di pusat pembuatannya banyak sekali ditemukan kapak persegi yang semunya telah diberi bentuk namun masih kasar atau belum dihaluskan. Hal ini menandakan kalau kapak persegi dihaluskan oleh pemakainya bukan pembuatnya. Adapun perkiraan pusat-pusat dari pembuatan kapak persegi antara lain di dekat Lahat (Palembang), dekat Bogor, Sukabumi, Karawang, Tasikmalaya (Jawa Barat), di daerah Pacitan (Madiun) dan lereng selatan Gunung Ijen (Jawa Timur)
Nama kapak persegi itu berasal dari Von Heine Goldern, berdasarkan kepada penampang-alang dari alat-alatnya, yang                                                                                                                          
B. KAPAK LONJONG 
kapak lonjong
Paleolitikum, hal ini bisa dikatakan lebih baik karena hasil peralatan yang ditemukan pada zaman ini lebih maju.Zaman Neolitikum menghasilkan beberapa kebudayaan yang salah satunya adalah kebudayaan kapak lonjong.Kapak lonjong ini dikatakan jauh lebih maju apabila dibandingkan dengan kebudayaan zaman Paleolitikum, yaitu kebudayaan kapak genggam dan kapak perimbas.

Tradisi kapak lonjong dapat diduga lebih tua daripada tradisi beliung persegi.Bukti-bukti stratigrafis telah ditunjukkan oleh T. Harrison dalam ekskavasi yang dilakukan di Gua Niah, Serawak, dan menurut pertanggalan C-I4 yang diperolehnya, kapak lonjong ditemukan dalam lapisan tanah yang berumur ± 8.000 SM.

Kapak ini bentuk umumnya lonjong dengan pangkal agak runcing dan melebar pada bagian tajaman.Bagian tajaman diasah dari dua arah dan menghasilkan bentuk tajaman yang simetris.Di sinilah bedanya dengan beliung persegi yang tidak pernah memiliki tajaman simetris (setangkup).Bentuk penampang lintangnya seperti lensa, lonjong, atau kebulat-bulatan.
Sebagian besar kapak lonjong dibuat dari batu kali, dan warnanya kehitam-hitaman.Bentuk keseluruhan dari kapak tersebut adalah bulat telur dengan ujungnya yang lancip menjadi tempat tangkainya, sedangkan ujung lainnya diasah hingga tajam.Untuk itu bentuk keseluruhan permukaan kapak lonjong sudah diasah halus.

Ukuran yang dimiliki kapak lonjong yang besar lazim disebut dengan Walzenbeil dan yang kecil disebut dengan Kleinbeil, sedangkan fungsi kapak lonjong sama dengan kapak persegi. Daerah
 
penyebaran kapak lonjong adalah Minahasa, Gerong, Seram, Leti, Tanimbar dan Irian. Dari Irian kapak lonjong tersebar meluas sampai di Kepulauan Melanesia, sehingga para arkeolog menyebutkan
C.PERKEMBANGAN ZAMAN LOGAM
Pada zaman prasejarah,  zaman dibedakan berdasarkan alat-alatnya, yaitu, zaman batu dan logam. Zaman batu yang termuda adalah zaman neolitikum dan zaman selanjutnya adalah zaman logam. Dengan dimulainya zaman logam, bukan berati berakhir zaman batu, karena pada zaman logam masih terdapat alat-alat dan perkakas batu. Nama zaman logam hanya untuk menyatakan bahwa saat itu logam telah dikenal dan dipergunakan  orang untuk membuat alat-alat yang diperlukan.
Logam tidak dapat dipukul-pukul atau dipecah seperti batu guna mendapat alat yang dikehendaki. Logam harus dilebur dahulu dari bijinya untuk dapat dipergunakan. Leburan logam itu yang kemudian dicetak. Tehnik pembuatan benda-benda dari logam itu dinamakan <<a cire perdue>>, dan caranya adalah: benda yang dikehendaki dan dibuat terlebih dahulu dari lilin, lengkap dengan bagian-bagiannya. Kemudian model dari dari lilin itu ditutup dengan tanah. Dengan jalan dipanaskan maka selubung tanah ini menjadi keras, sedangkan lilinnya menjadi cair dan mengalir ke luar lubang yang telah disediakan di dalam selubung itu. Jika telah habis lilinnya, dituangkan logam cair ke dalam geronggang tempat lilin tadi. Dengan demikian logam itu menggantikan model lilin tadi. Setelah dingin semuanya, selubung tanahnya dipecah, dan keluarlah benda yang dikehendaki itu, bukan dari lilin melainkan logam.
Dari zaman-zaman prasejara, dapat ketahui bahwa zaman logam dibagi lagi atas zaman tembaga, perunggu dan besi. Asia Tenggara tidak mengenal zaman tembaga. Setelah neolitikum langsung ke zaman perunggu dan  berlanjut ke zaman besi. Di Indonesia zaman logam pun sulit untuk dibago ke dalam zaman perunggu atau besi. Bisa dikatakan bahwa zama logam di Indonesia hanya zama perunggu, karena alat-alat perkakas besi tidak banyak bedanya dengan alat-alat zaman perunggu.






Perkembangan Teknologi
     Teknologi yang digunakan oleh manusia purba bermula dari peralatan yang dibuat dari bebatuan . Pada praktiknya digunakan sebagai alat serba guna, karena satu alat bias memiliki lebih dari satu fungsi sesuai kebutuhan mereka. Pada tahap paling awal alat yang digunakan bersifat kebetulan dan seadanya. Mula mula mereka menggunakan benda benda dari alam terutama batu.Berikut ini kami akan menjelaskan perkembangan teknologi secara detail
1. Paleolitikum
     Zaman Paleolitikum disebut juga zaman batu tua karena hasil kebudayaan ter-buat dari batu yang relatif masih sederhana dan kasar. Zaman ini berlangsung antara tahun 50.000 SM – 10.000 SM.Zaman paleolitikum terbagi menjadi 2 kebudayaan, yaitu :
1.  Kebudayaan Pacitan
Kebudyaan ini berkembang didaerah pacitan Jawa
Timur. Berikut ini contoh alat-alat dari batu yang
ditemukan di Pacitan :
§  Kapak Genggam : digunakan untuk menusuk binatang atau menggali tanah. Kapak ini ditemukan oleh von koenigwald dalam penelitiannya tahun 1935. Kapak ini masih kasar dan bentuk ujungnya agak runcing ditemukan di daerah punung
§  Kapak Perimbas : digunakan untuk merimbas kayu, memahat tulang,dan sebagai senjata.
2.  Kebudayaan Ngandong
            Berkembang didaerah ngandong dan juga sidorejo,
              dekat ngawi .Alat dari tulang, tanduk rusa, dan batu
               yang berbentuk tombak yang ber-gerigi.Berikut contoh
              alat-alat kebudayaan ngandong :
      • Tulang binatang dan tanduk rusa : digunakan sebagai penusuk untuk me-ngorek ubi dan keladi dari dalam tanah dan menangkap ikan.
      • Flakes (alat yang terbuat dari batu Chalcedon) : digunakan untuk mengupas makanan, menangkap ikan, dan mengumpulkan ubi dan buah-buahan.
2. Mesolitikum
     Zaman Mesolitikum dikenal juga dengan Zaman Batu Madya. Hasil kebudayaan batu madya ini lebih maju dibandingkan zaman paleolitikum. Secara garis besar, kebudayaan mesolitikum terbagi menjadi 2, yakni di daerah pantai dan gua. Berikut kebudayaan yang terdapat pada zaman mesolitikum :
1.  Kebudayaan Kjokkenmoddinger
       Kjokkenmoddinger istilah dari bahasa Denmark yang
      berarti sampah dapur atau merupakan tumpukan timbunan
      kulit siput dan kerang yang meng-gunung sepanjang pantai
      Sumatera Timur. Manusia purba pada zaman ini umumnya 
      bertempat tinggal di tepi pantai. Berikut alat-alat yang
      ditemukan pada kebudayaan kjokkenmoddinger :
    • Kapak Sumatra (pebble) : terbuat dari batu kali yang terbelah dua dan teksturnya masih kasar.Kapak ini ditemukan olehvon stein callenfals pada tahun 1925.
    • Batu Pipisan (batu-batu alat penggiling) : digunakan untuk menumbuk dan menghaluskan jamu.
    • Kapak pendek (bache courte) : kapak yang berbentuk setengah lingkaran seperti kapak genggam.
1.  Kebudayaan Abris Sous Roche
        Merupakan hasil kebudayaan yang ditemukan di gua-gua.
        Hal ini membuktikan bahwa manusia purba banyak hidup
       di goa goa. Penelitian tentang kebudayan pertama
       dilakukan oleh Von Stein Callenfels pada tahun 1928-
       1931 di Gua Lawa dekat Sampung, Ponorogo.Kebudayaan
       abris sous roche banyak ditemukan di Besuki, Bojonegoro
        juga di daerah Sulawesi Selatan. Berikut beberapa contoh 
       alat-alat yang ditemukan pada kebudayaan Abris Sous
       Roche :
    • Alat-alat dari bebatuan, seperti ujung panah, flakes, dan batu penggilingan.
    • Alat-alat dari tulang dan tanduk rusa.
3. Neolitikum
     Neolitikum juga disebut zaman batu muda.Pada zaman ini pola hidup food gathering digantikan dengan pola food producing. Pada zaman neolitikum selain ditemukan kapak batu juga ditemukan perhiasan seperti gelang dari batu, gerabah dan tembikar Pada zaman ini dibagi menjadi dua tahap perkembangan :
1.  Kebudayaan kapak persegi
       Berasal dari penyebutan oleh Von Heine Gelderen
         penamaan ini dikaitkan dengan bentuk alatnya yang
         berbentuk persegi panjang dan ada yang berbentuk
         trapezium. Alat –alat ini banyak ditemukan di kepulauan
         Indonesia bagian barat
    • Kapak persegi yang besar sering disebut beliung atau pacul (cangkul).
    • Kapak persegi yang berukuran kecil disebut tarah atau tatah
    • Kapak persegi cocok sebagai alat pertanian
1.  Kebudayaan kapak lonjong
        Bentuk keseluruhan alat lonjong seperti bulat telur.
        Kapak ini sering ditemukan di kepulauan Indonesia
        bagian timur
    • Kapak yang berukuran besar disebut walzenbeil
    • Kapak yang berukuran kecil disebut kleinbeil
4. ZAMAN LOGAM
Zaman logam disebut masa perundagian.Di Indonesia Zaman logam dibagi menjadi dua yaitu :
1.  Zaman Perunggu
Pada zaman perungggu manusia purba sudah dapat
mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan
3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras. Alat-alat
perunggu pada zaman ini antara lain :
§  Kapak Perunggu
§  Nekara Perunggu (Moko)
§  Bejana Perunggu
§  Arca Perunggu
2.  Zaman Besi
        Zaman Besi Pada zaman ini orang sudah dapat melebur
       besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang
       diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik
       peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi
      membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.
      Alat-alat besi yang dihasilkan antara lain:

    • Mata Kapak bertungkai kayu
    • Mata Pisau
    • Mata Sabit
    • Mata Pedang
    • Cangkul